Majalah Foreign Policy yang terbit di Amerika Serikat (AS) menyebutkan bahwa pilpres Mesir membuat pejabat Israel tidak tidur. Mereka khawatir pilpes menjadikan Mesir yang sebelumnya sahabat terkuat di Arab berubah menjadi musuh Israel, lansir Watan dikutip Hidayatullah, Ahad (27/5).

Hasil perhitungan suara yang secara resmi akan diumumkan Selasa (29/5), menempatkan Mursi di posisi pertama. Kemenangan Mursi ini semakin menambah ketakutan Israel, meskipun ia masih harus memenangkan putaran kedua untuk menjadi presiden Mesir.

Mursi merupakan capres dari Ikhwanul Muslimin, pergerakan Islam terbesar di Mesir yang dikenal sangat tegas terhadap Israel. Pada 14 April 1948, Ikhwan mengirim 10 ribu mujahid ke Palestina untuk bertempur melawan Israel. Pertempuran sengit itu membuat Israel terpukul, dan menjadikan negara Zionis itu sangat memperhitungkan kekuatan Ikhwan.

Sampai saat ini Ikhwan tetap menolak penjajahan Israel atas Palestina. Jika Mursi benar-benar terpilih menjadi presiden Mesir, Israel akan kehilangan sekutu terbesarnya dan merasa tidak aman berada di Palestina. [IK/Hdy/bsb]

AIR MATA SAYA MENETES DI RUMAH DR HIDAYAT NURWAHID

Oleh : Habib Nabil Al Musawwa
Bismilaahhir Rahmaanir Rahiim,
Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan untuk ikut dalam acara buka bersama dengan Ketua MPR-RI, DR Muhammad Hidayat Nurwahid, MA di rumah dinasnya, kompleks Widya Chandra dengan beberapa ikhwah. Ketika saya masuk ke rumah dinas beliau tsb, maka dalam hati saya bergumam sendiri: Alangkah sederhananya isi rumah ini.
Saya melihat lagi dengan teliti, meja, kursi2, asesori yg ada, hiasan di dinding. SubhanaLLAH, lebih sederhana dari rumah seorang camat sekalipun. Ketika saya masuk ke rumah tsb saya memandang ke sekeliling, kebetulan ada disana Ketua DPR Agung Laksono, Wk Ketua MPR A.M Fatwa, Menteri Agama, dan sejumlah Menteri dari PKS (Mentan & Menpera) serta anggota DPR-RI, serta pejabat-pejabat lainnya.
Lagi-lagi saya bergumam: Alangkah sederhananya pakaian beliau, tidak ada gelang dan cincin (seperti yang dipakai teman-teman pejabat yangg lain disana). Ternyata beliau masih ustadz Hidayat yg saya kenal dulu, yang membimbing tesis S2 saya dengan judul: Islam & Perubahan Sosial (kasus di Pesantren PERSIS Tarogong Garut). Terkenang kembali saat-saat masa bimbingan penulisan tesis tersebut, dimana saya pernah diminta datang malam hari setelah seharian aktifitas penuh beliau sebagai Presiden PKS, dan saya 10 orang tamu yang menunggu ingin bertemu.
Saya kebagian yg terakhir, ditengah segala kelelahannya beliau masih menyapa saya dengan senyum : MAA MAADZA MASAA’ILU YA NABIIL? Lalu saya pandang kembali wajah beliau, kelihatan rambut yang makin memutih, beliau bolak-balik menerima tamu, saat berbuka beliau hanya sempat sebentar makan kurma dan air, karena setelah beliau memimpin shalat magrib terus banyak tokoh yg berdatangan, ba’da isya & tarawih kami semua menyantap makanan, tapi beliau menerima antrian wartawan dalam & luar negeri yang ingin wawancara.
Tidak terasa airmata ana menetes, alangkah jauhnya ya ALLAH jihad ana dibandingkan dengan beliau, saya masih punya kesempatan bercanda dengan keluarga, membaca kitab dsb, sementara beliau benar-benar sudah kehilangan privasi sebagai pejabat publik, sementara beliaupun lebih berat ujian kesabarannya untuk terus konsisten dalam kebenaran dan membela rakyat. Tidaklah yang disebut istiqamah itu orang yang bisa istiqamah dalam keadaan di tengah-tengah berbagai kitab Fiqh dan Hadits seperti ana yang lemah ini.
Adapun yang disebut istiqamah adalah orang yg mampu tetap konsisten di tengah berbagai kemewahan, kesenangan, keburukan, suap-menyuap dan lingkungan yang amat jahat dan menipu. Ketika keluar dari rumah beliau saya melihat beberapa rumah diseberang yang mewah bagaikan hotel dengan asesori lampu-lampu jalan yg mahal dan beberapa buah mobil mewah, lalu ana bertanya pada supir DR Hidayat : Rumah siapa saja yg diseberang itu? Maka jawabnya : Oh, itu rumah pak Fulan dan pak Fulan Menteri dari beberapa partai besar. Dalam hati saya berkata: AlhamduliLLAH bukan menteri PKS. Saat pulang saya menyempatkan bertanya pada ustadz Hidayat: Ustadz, apakah nomor HP antum masih yang dulu?
Jawab beliau: Benar ya akhi, masih yg dulu, tafadhal antum SMS saja ke ana, cuma afwan kalo jawabannya bisa beberapa hari atau bahkan beberapa minggu, maklum SMS yang masuk tiap hari ratusan ke saya. Kembali airmata saya menetes. alangkah beratnya cobaan beliau & khidmah beliau untuk ummat ini, benarlah nabi SAW yang bersabda bahwa orang pertama yang dinaungi oleh ALLAH SWT di Hari Kiamat nanti adalah Pemimpin yang Adil. Sambil berjalan pulang saya berdoa : Ya ALLAH, semoga beliau dijadikan pemimpin yang adil dan dipanjangkan umur serta diberikan kemudahan dalam memimpin negara ini. Aaamiin ya RABB.

Bilal Bin Rabah Rodliallohu’anhu

Gambar

 

Namanya adalah Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan membuat setiap orang tetap penasaran untuk mendengarnya.

Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam).

Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.

Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Shalallahu ‘alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, ‘Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.

Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.

Orang-orang Islam seperti Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib masih memiliki keluarga dan suku yang membela mereka. Akan tetapi, orang-orang yang tertindas (mustadh’afun) dari kalangan hamba sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun, sehingga orang-orang Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan. Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran Muhammad.

Kaum yang tertindas itu disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy yang berhati sangat kejam dan tak mengenal kasih sayang, seperti Abu Jahal yang telah menodai dirinya dengan membunuh Sumayyah. Ia sempat menghina dan mencaci maki, kemudian menghunjamkan tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus punggung, dan gugurlah syuhada pertama dalam sejarah Islam.

Sementara itu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, terutama Bilal bin Rabah, terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.

Adakalanya, saat siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh orang-orang Islam yang tertindas itu semakin lemah untuk menahannya, mereka mengikuti kemauan orang-orang Quraisy yang menyiksa mereka secara lahir, sementara hatinya tetap pasrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Bilal, semoga Allah meridhainya. Baginya, penderitaan itu masih terasa terlalu ringan jika dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah dan perjuangan di jalan-Nya.

Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”

Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”

Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.

Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.

Suatu ketika, Abu Bakar Rodhiallahu ‘anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas.

Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.”

Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya.”

Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.”

Ash-Shiddiq Rodhiallahu ‘anhu menjawab, “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.”

Setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera berhijrah, termasuk Bilal Rodhiallahu ‘anhu. Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan ‘Amir bin Fihr. Malangnya, mereka terkena penyakit demam. Apabila demamnya agak reda, Bilal melantunkan gurindam kerinduan dengan suaranya yang jernih :

Duhai malangnya aku, akankah suatu malam nanti
Aku bermalam di Fakh dikelilingi pohon idzkhir dan jalil
Akankah suatu hari nanti aku minum air Mijannah
Akankah aku melihat lagi pegunungan Syamah dan Thafil

Tidak perlu heran, mengapa Bilal begitu mendambakan Mekah dan perkampungannya; merindukan lembah dan pegunungannya, karena di sanalah ia merasakan nikmatnya iman. Di sanalah ia menikmati segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Di sanalah ia berhasil melawan nafsu dan godaan setan.

Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Bilal selalu mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ke mana pun beliau pergi.

Selalu bersamanya saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.

Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan azan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan (muazin) dalam sejarah Islam.

Biasanya, setelah mengumandangkan azan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam seraya berseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alalfalaahi…(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan….)” Lalu, ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.

Suatu ketika, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengambil satu tombak, sementara sisanya diberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar ibnul Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Ia membawanya dalam kesempatan dua shalat ‘id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan shalat istisqa’ (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan beliau saat melakukan shalat di luar masjid.

Bilal menyertai Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam Perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah menyiksanya dengan hebat. Ia melihat Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin dan darahnya mengalir deras karena tusukan tombak orang-orang yang mereka siksa dahulu.

Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menaklukkan kota Mekah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama ’sang pengumandang panggilan langit’, Bilal bin Rabah. Saat masuk ke Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, pembawa kunci Ka’bah, Usamah bin Zaid, yang dikenal sebagai kekasih Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan putra dari kekasihnya, dan Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal melaksanakan perintah Rasul Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan senang hati, lalu mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas.

Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati mereka.

Saat azan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”.

Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.” Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.

Khalid bin Usaid berkata, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini.” Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masuk ke kota Mekah..

Sementara al-Harits bin Hisyam berkata, “Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka’bah.”

AI-Hakam bin Abu al-’Ash berkata, “Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka’bah).”

Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, “Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai kepada Muhammad bin Abdullah.”

Bilal menjadi muazin tetap selama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam hidup. Selama itu pula, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, “Ahad…, Ahad… (Allah Maha Esa).”

Sesaat setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.

Sejak kepergian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.

Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.

Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”

Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”

Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam wafat.”

Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan azan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Radhiallahu ‘anhu setelah terpisah cukup lama.

Umar sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa hormat begitu besar kepadanya, sehingga jika ada yang menyebut-nyebut nama Abu Bakar ash-Shiddiq di depannya, maka Umar segera menimpali (yang artinya), “Abu Bakar adalah tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal).”

Dalam kesempatan pertemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar mau mengumandangkan azan di hadapan al-Faruq Umar ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang nyaring itu kembali terdengar mengumandangkan azan, Umar tidak sanggup menahan tangisnya, maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir hingga janggut mereka basah dengan air mata. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam..Bilal, “pengumandang seruan langit itu”, tetap tinggal di Damaskus hingga wafat.

Disalin dari Biografi Ahlul Hadits, yang bersumber dari Shuwar min Hayaatis Shahabah, karya Doktor ‘Abdurrahman Ra’fat Basya

Gelombang Silih Berganti, Semua Ujian Penguat Cinta

Tak ada hidup yang linear lurus tanpa cekungan dan cembungan. Semua akan melahirkan berjuta kisah. Kisah baik dan buruk merupakan sebuah hasil  yang lahir dalam hidup. Bunga-bunganya akan melahirkan antagoni-antagoninya dan Protagoni-protagoninya. Itulah hidup, semua bermasalah, semua akan berubah, semua akan semakin dewasa.

“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ´Ashr: 1-3)

Karena hati bicara rahasia keajaiban, rahasia yang menyentuh lekuk-lekuk detailnya. Berperan memukau dalam hidup, ketika hati itu disandingkan dengan tekad keimanan yang merajai. Berjuta pesona akan dijumpai semerbak mewangi ditaman dunia bagai mawar putih yang menjadi focus di keindahan taman yang mempesona.

Bangunlah fondasi saling wasiat dalam kebenaran. Ya, fondasi yang isinya Tawashau bilHaq wa tawashau bishabr, saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran, menasehati karena Alloh, dan beramar makruf karena-Nya.

Setiap bangunan yang tidak dilandasi oleh nilai-nilai tersebut, maka ia menjadi bangunan rapuh yang tidak akan bisa bertahan dalam jangka waktu lama. Dari sanalah bakal muncul bisikan nafsu, kepentingan pribadi, dan berbagai penyakit lainnya.

Atas dasar inilah imam Al Ghozali menjelaskan nilai mahal dari amar makruf nahi munkar dalam perjalanan Islam. Berkata Al Ghozali “Amar makruf nahi munkar adalah kutub agung bagi agama ini. Ia adalah urgensi, yang Alloh SWT mengutus semua Nabi untuk menegakkannya. Apabila permadani amar makruf dilipat, ilmu dan amalannya di sia-siakan, maka sia-sia pulalah kenabian. Akibatnya samudra ilmu pun dangkal, zaman menjadi gersang, kesesatan tersebar luas, kebodohan dan kerusakan pun akan merajalela. Kebingungan melanda manusia, negeri porak poranda, dan umat manusia pun akan hancur”.

Dari sinilah tanggung jawab menunaikan kewajiban ini dilaksanakan sebelum yang lain, dalam batas yang telah dimaklumi bersama. Jika hati bicara tentang rahasia keajaibannya, Cinta terkembang menjadi kata, nasehat akan menjadi penguatnya.

Firdaus

KESADARAN BERFIKIR

Di negara-negara berpenduduk islam termasuk indonesia, terjadi banyak peristiwa yang mengguncangkan jiwa, memberikan rasa duka yang mendalam di hati, dan mengundang perhatian pada kewajiban untuk bersungguh-sungguh dan beramal, dengan menempuh jalan pembinaan setelah menyerukan peringatan, dan membangun fondasi (bangunan/kumpulan orang2 yg kokoh) setelah pengajaran… sering ajakan kepada para pembesar tentang kewajiban u/ bangkit, beramal dan menempuh jalan kesungguhan dan pembinaan. saat itu juga pasti akan ditemui sambutan orang yang menggembosi, orang yang memberikan semangat, dan orang yang tidak berminat. Akan tetapi sambutan yang saya inginkan adalah penataan potensi di medan kerja operasional. saya berharap bersama-sama saudaraku yang seiman. saya dipersatukan dengan mereka karena kesamaan kehendak, ketulusan, cinta, dan rasa tanggung jawab terhadap kewajiban. Pada diri mereka saya dapati kesiapan yang baik. Kemudian kami berjanji bahwa dari masing2 kami beramal untuk mencapai tujuan tersebut, sehingga kebiasaan (‘Urf) umat secara umum berubah menuju cara pandang islami yang benar.

Tidak ada yang tahu kecuali Alloh berapa malam telah terlewatkan bersama orang2 yg bersungguh-sungguh u/ mengungkap kondisi umat dan berbagai fenomena yang melekat pada kehidupan mereka, mendiagnosa berbagai celah dan penyakitnya, kemudian mencari obat untuk membasmi penyakit tersebut. Saat ini sungguh keprihatinan yang akan muncul ketika melihat banyak fenomena yang melanda umat sehingga meneteslah air mata yang insya Alloh akan  bernilai perjuangan dan pengorbanan ini. kami sangat heran kepada mereka itu, ternyata kebanyakan mereka adalah para cendekiawan orang2 yang semestinya lebih layak daripada kami untuk mengemban amanat ini. Sehingga ada yang mengatakan ‘Bukankah ini jugga salah satu penyakit Umat ini?’ bahkan kemudian penyakit yang paling berbahaya adalah bahwa umat tidak menyadari penyakitnya dan tidak berusaha untuk mengobati dirinya. Karena itulah mari kita beramal dan berusaha bersama-sama memperbaiki kerusakan tersebut. Untuk hal itu, kita wakafkan diri kita sebagai para aktivis dakwah yang berjuang untuk menegakkan agama-Nya.

Sesungguhnya Kebangkitan semua bangsa di dunia ini selalu bermula dari kelemahan yang menjadikan pengamatnya beranggapan bahwa mencapai apa yang dicita-citakan oleh umat adalah kemustahilan. Akan tetapi, di balik anggapan kemustahilan tsb, sejarah sesungguhnya telah mengajarkan kepada kita bahwa kesabaran, keteguhan, kearifan, dan kehati-hatian dalam bertindak dan disertai berfikir optimal telah mengantrakan bangsa-bangsa lemah itu merangkak dari ketidak berdayaan menuju puncak keberhasilan dan kejayaan yang di cita-citakan oleh perancang kebangkitan tersebut. Saat dahulu kala sebelum islam hadir di muka bumi, siapakah yang bisa percaya bahwa gurun pasir jazirah Arab yang gersang dan kering kerontang itu akan menjadi mercusuar kegemilangan dan pengetahuan. Dimana pengaruh Spiritual dan politik para putra-putranya dapat menguasai negara-negara Adidaya saat itu (Romawi, Persia, Bangsa2 di Afrika, Mesir, India, Cina, dll). Itulah kebangkitan yang sangat gemilang. Sekarang, Pertanyaannya adalah Apakah saat ini kita termasuk saya sendiri yang sudah membaca/menulis dari awal sampai akhir catatan ini, sudah berjalan sesuai dengan sunnatullahyang berlaku di keseharian untuk alam ini dan dalam kehidupan sosial? itulah pertanyaan radikal yang harus dikeluarkan untuk menuju kesadaran berfikir bahwa islam adalah hal yang patut untuk dipelajari, diamalkan dan diperjuangkan..

Wallohua’lam bishshowwab…..

Kuliah dari Mahapatih Gajah Mada

Hari itu, Tahun 1253 saka, Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih Kerajaan Majapahit menggantikan Patih Arya Tadah. Ia bertekad menaklukan seluruh kerajaan se-Nusantara dibawah kendali kerajaan Majapahit dengan Sumpah Palapa-nya yang sangat terkenal. Sebelum mewujudkan cita-citanya, Gajah Mada bersumpah tidak akan memakan buah palapa (sebagai simbol kenikmatan dunia). Betapa baktinya ia kepada negara!.

Dimasa itu Majapahit di bawah pimpinan Raja Hayam Wuruk, telah menjadi kerajaan yang besar dan disegani diseluruh Nusantara. Peran Patih Gajah Mada dengan sumpah Palapa-nya yang terkenal membuat hampir seluruh Nusantara takluk di bawah kekuasaan Majapahit. Hanya ada satu yang hingga saat itu masih merdeka dari pengaruh Majapahit, padahal negeri itu hanya dibatasi sebatang aliran sungai Cipamali. Negeri Sunda! Negeri Sunda inilah yang membuat Sumpah Palapa Gajah Mada belum juga tergenapi. Tak terhitung sudah berapa kali Gajah Mada berniat untuk menyerang Negeri Sunda dengan pasukannya, namun selalu urung karena ia merassaada bermacam wibawa tak kasat mata yang membuatnya segan terhadap Negeri Sunda yang jika ditilik dari sejarah, memang telah ada terlebih dahulu dibanding Majapahit, bahkan pendiri Majapahit sendiri memiliki darah Sunda dari ayahnya. Sayangnya Gajah Mada tak mempercayai adanya hubungan darah ini, sehingga ambisinya untuk menaklukan Negeri Sunda tak pernah padam.

Mungkin benar, tanpa jasa Mahapatih Gajah Mada rasanya sulit Majapahit menjadi kerajaan besar seperti saat itu. Majapahit yang dipimpin Tribhuwanatunggadewi bisa menguasai lebih dari tujuh bagian kepulauan penting yang terdiri dari beberapa kerajaan. Bahkan, banyak kerajaan-kerajaan kecil yang rela bergabung di bawah naungan dan kendali Majapahit. Ketika banyak pemberontakan di negeri kecil pun, Gajah Mada-lah yang banyak menyelesaikannya. Maka tak heran karena jasa-jasanya, pantaslah jika ia mendapat posisi yang terhormat didalam kerajaan.

Cita-cita Gajah Mada agaknya memang terlalu tinggi. Namun semuanya bukan halangan bagi seorang ksatria seperti dia. Barangsiapa yang menentang cita-cita luhur itu, maka nyawalah yang akan menjadi penebusnya. Akhirnya, wilayah Majapahit pun (yang dulunya hanya daerah hutan yang kecil) menjadi luas karena banyak kerajaan yang sudah ditaklukannya.

Namun ada yang terlupakan, Mahapatih Gajah Mada rupanya belum bisa menaklukan satu negeri di seberang sungai Cipamali, yang nota bene sebagai negeri kecil. Negeri itu mungkin masih negeri nenek moyang Raja Kertarajasa Jaya Wardhana. Bagaimana mungkin ia dapat menaklukan negeri yang telah lama berdiri, sedangkan Majapahit sendiri adalah negara yang baru beberapa tahun berdiri.

Jauh di negeri Sunda, konon hiduplah seorang putri kerajaan yang cantik. Dyah Pitaloka namanya. Kecantikannya sudah terdengar sampai ke Majapahit. Akhirnya kabar itu terbukti nyata. setelah beberapa utusan yang bertugas melukis gadis-gadis cantik. tak ada satupun lukisan yang bisa menyentuh hati sang raja. tetapi ketika menyaksikan langsung Dyah Pitaloka, para pelukis itu dibuat terkagum-kagum oleh pancaran yang keluar dari diri Sang putri. Saat para pelukis itu melukiskan sosok Sang putri, Raja sendirilah yang menyaksikan bagaimana eloknya gadis itu. Kulitnya seputih susu, rambutnya tergerai indah, hidung lencir dengan mata jeli, dihiasi bulu mata yang lentik. Tubuhnya wangi seharum melati. semua kecantikan ada padanya. Parasnya ayu, membuat ia bisa menaklukan hati lelaki manapun, bahkan Raja Hayam Wuruk, Raja Majapahit. Dialah bunga yang sedang merekah di tanah Sunda. Dyah Pitaloka Citraresmi namanya.

Tidak hanya luar biasa cantiknya, pribadi Dyah Pitaloka juga mengesankan. Ia adalah seorang putri yang cantik dan haus akan ilmu dan gemar membaca kitab-kitab sastra dan senang mempelajari ilmu kanuragan. Putri cantik itu pun memiliki pandangan yang jauh kedepan mengenai peran seorang wanita sekaligus putri kerajaan terhadap kesejahteraan kerajaannya. Tidak hanya itu, kepribadian dan kepandaian sang putri pun sudah tampak dari raut wajahnya.

Dan tidak salah lagi, apabila Raja Hayam Wuruk, akhirnya memilih Dyah Pitaloka sebagai calon istri. Namun atas saran dari Mahapatih Gajah Mada, Sang Raja tidak langsung melamarnya. Gajah Mada menganggap terlalu rendah jika Raja Majapahit yang sudah sangat besar haruslah merendahkan dirinya untuk Sang Putri dari Sunda itu. Terlebih ada sebuah cita-cita Gajah Mada untuk menjadikan Negeri Sunda sebagai negeri taklukan selanjutnya.

Gajah Mada pun menggunakan kecerdikannya mengakali bagaimana cara lebih terhormat bagi Sang Raja untuk menikahi Sang Putri dari negeri kecil itu. Upetillah jawabannya. Sang Putri dianggap upeti yang layak untuk kerajaan besar seperti Majapahit. Dengan Alih-alih menggunakan adat Sunda yang mempelai lelaki bersembah sujud kepada calon mertua, Prabu Hayam Wuruk yang akan direncanakan menjemput Dyah Pitaloka dan rombongannya di Tegal Bubat. akhirnya gagal. Gajah Mada mengubah rencana yang sudah tersusun rapi. Rombongan Prabu Linggabhuana telah sampai di Tegal Bubat heran karena Prabu Hayam Wuruk dan rombongan yang akan menjemputnya tak kunjung tiba.

Dua Ksatria Sunda di utus untuk memasuki Majapahit, mereka bertemu dengan Mahapatih Gajah Mada yang memerintahkan agar Prabu Linggabhuana dan rombongannnya datang sendiri ke istana Majapahit untuk menyerahkan Dyah Pitaloka sebagai ‘upeti’ kepada kerajaan Majapahit dari Negeri Sunda. Hal itu membuat rombongan Prabu Linggabhuana tersinggung. Harga diri dan martabat Negeri Sunda terasa di cabik-cabik. Prabu Linggabhuana menolak perintah Gajah Mada. Perang tak terhindarkan! Pertarungan yang tak seimbang antara harga diri Prabu Linggabuana dan ambisi Mahapatih Gajah Mada berkembang menjadi perang yang dahsyat. Dyah Pitaloka pun yang masih memakai pakaian pengantinnya ikut bertarung mempertahankan negeri dan harga dirinya sebagai seorang putri Sunda.

Karena itulah, akhirnya terjadi pertentangan antaraNegeri Sunda dengan Majapahit akibat ulah Gajah Mada yang ambisius. Pertempuran pun berjalan sangat sengit, Banisora sang paman Dyah Pitaloka akhirnya harus merelakan nyawanya untuk adu kesaktian dengan Gajah Mada. Dan Dyah Pitaloka pun tidak mau takluk begitu saja. Ia pun ikut bertarung dalam pertempuran itu, hingga sampailah pedangnya sendiri yang menusuk dirinya. Darah pun berkecucuran.

Saat peristiwa tragis itu Hyam Wuruk pun muncul. Agaknya terlambat sudah kedatangannya karena calon istrinya sudah terkulai lemah akibat tusukan. Ia menyesal karena telah menyebabkan hal yang semestinya tidak terjadi. Dyah Pitaloka akan dijadikan istri bukan upeti. Sedangkan Gajah Mada tidak diketahui rimbanya. Ia gagal dan meruntuhkan semua sembah bakti yang pernah ia lakuakan untuk negaranya. Sejarah mencatatnya dengan sebutan Perang Bubat.

HARI ITU AKAN TIBA

Waktu yang berlalu tak akan kembali
Hari-hari yang

terjanjikan pasti tiba
Hari-hari yang sudah tersetting rapi dalam program Lauhul Mahfudz
Program tercanggih dalam sejarah penciptaan alam semesta
Yang tertulis oleh tinta Al Qolam
Yang tertulis atas Firman-Nya

Hari-hari itu akan tiba dan pasti akan menghampirimu
Sudahkah siapkah engkau?
Punya bekal apakah engkau?
Jangan sampai ketika hari itu tiba, engkau akan meminta kembali.
Atau mungkin minta Dispensasi?

Tidak bisa wahai kawanku,,,,
karena ketika nyawa sudah di pembatas kerongkongan,
Sakit terasa tak akan terelakkan,
sakit…………
sangat saki sekali………….
itu sabda Rosululloh SAW,

Bayangkanlah apa yang akan kita lakukan pada waktu itu wahai kawanku,,,
Apa yang akan engkau lakukan???
Ketika IZRAIL sudah ada dihadapan.

Hari itu akan menghampirimu tak kenal kesibukanmu,,
Hari itu akan menutup usiamu……….

 

Firdaus

Karena Hidup Bukan Menunda Kekalahan

Hidup itu bukan perjalanan yang datar. Atau bergerak linear. Ada lika-likunya. Ada suka dan duka. Ada keberhasilan di satu waktu, kadang kegagalan di waktu lainnya. Bahkan iman, “yazidu wa yanqus” suatu saat naik, suatu ketika turun.

Maka mempertahankan azam dan cita-cita adalah energi jiwa yang membuat manusia mampu bertahan dalam kebermaknaan hidup. Memiliki harapan yang akan digapai adalah bahan bakar yang membuat nyali kehidupan kita tetap menyala. Kalaupun cita-cita itu telah tercapai, buatlah cita yang lebih tinggi. Kalaupun harapanmu telah kau gapai, buatlah harapan yang lebih besar hendak kau gapai. Seperti jiwa perindu Umar bin Abdul Aziz. Memancangkan cita memperoleh istri shalihah, lalu berharap menjadi amir. Kemudian khalifah. Semuanya tercapai. Ketika menjadi khalifah, ia mengerahkan segenap potensinya untuk meraih cita terakhirnya: masuk surga. Jadilah ia pemimpin yang adil dan menyejahterakan: sampai para amil kesulitan menemukan para mustahik.

Mengapa kini kita temukan orang-orang yang kehilangan daya hidup sebelum kehidupan meninggalkannya? Atau orang-orang yang diam menanti kematian datang, seraya menggumamkan dalam hatinya bait puisi Chairil Anwar: “Hidup hanya menunda-nunda kekalahan”

Manusia bisa menjadi seperti itu ketika ia tak lagi memiliki harapan, cita-cita. Dan itu bermula dari kesalahan memandang kehidupan. Bahwa hidup sekedar materi, untuk materi. Dari sana mencuatlah “godaan” yang lain: jika kau tak tahan menderita, akhiri saja hidupmu sekarang juga.

Tanpa harapan, cita-cita, bisa saja manusia tetap bertahan hidup. Namun tak ada lagi gairah dan semangat. Tak ada lagi letup-letup jiwa yang menggerakkannya untuk hidup lebih berarti, lebih bermanfaat. Ia menyerah. Ia kalah.

Ada lagi manusia yang pada awalnya memiliki cita-cita. Ia puas ketika cita-cita itu tercapai, lalu berdiam diri. Pada mulanya puas. Lama-lama menjadi tak berarti. Sebab tak ada lagi azam untuk mencapai yang lebih tinggi. “Di antara sekian jenis kemiskinan”, kata KH. Rahmat Abdullah, “yang paling memprihatinkan adalah kemiskinan azam”

Atau seseorang yang telah menorehkan prestasinya dalam pertengahan hidup. Lalu berputus asa karena ia hanya mampu mengenangnya tanpa membuat prestasi lain yang lebih besar di masa-masa akhir hidupnya. Di sini godaan iman menggoyahkannya. Ia justru kehilangan keikhlasan lalu tercebur dalam kesalahan. Memanggil topan untuk memporakporandakan kapal prestasinya. Maka kapal itupun tenggelam sebelum ditulis sejarah. Tenggelam dalam lautan kesalahan.

Khalid bin Walid mengajari kita. Menorehkan prestasi terbesar bukan di akhir hidupnya. Namanya telah mengharum sebagai pedang Allah, panglima perang yang selalu membawa pasukannya pada kemenangan. Dan puncaknya adalah Perang Yarmuk. Ketika ia berhasil membuat militer Romawi kalang kabut, ambruk. Lalu paska karya monumental itu, ia dipecat Umar. Tak pernah lagi memimipin perang. Namun ia berhasil memenangkan keikhlasan. Berhasil pula mempertahankan azam. Untuk syahid fi sabilillah. Maka seperti hadits Nabi, Khalid pun mendapatkan ini: “Siapa yang berazam mendapatkan mati syahid, ia akan dicatat sebagai syahid meskipun matinya di atas peraduan.” Dan sampai kini, namanya dikenang sebagai panglima besar Islam, hingga Agha Ibrahim Akram membutuhkan lebih dari 600 halaman untuk mencatat biografinya.

Belum terlambat bagi kita untuk memancangkan cita. Menegakkannya meninggi, berkibar di angkasa. Menguatkan akarnya hingga tak pernah tercabut dari bumi jiwa. Mengokohkan tiangnya hingga tak pernah patah oleh sekencang apapun angin godaan yang menghempas menerpa. Jika cita demi cita menjadi nyata, ucapkan puji dan panjatkan syukur pada-Nya. Namun satu lagi yang kita semua belum mampu memastikannya: Menggapai ridha-Nya dan beroleh surga. Bukankah itu setinggi cita-cita dan akan terus menyalakan semangat kita? Jika demikian halnya, percayalah: hidup bukan menunda kekalahan.

Wallohua’alam bishshowwab…

 

Firdaus

Dendang Kegagalan Bagi Calon Pahlawan Kehidupan

Mungkin sekian kalinya prasangka gagal menghampiri, berusaha menikam optimis sebagai saudara serumahnya dalam ruang pikiran, berusaha agar rasa percaya diri tenggelam dalam di dasar palung jiwa, akan tetapi rasa kegagaalan bukanlah paradigma berfikir yang harus mengiringi setiap langkah kehidupan dan mematikannya. rasa kegagalan adalah hal yang lumrah dalam menghadapi segala ujian duniawi, tapi yang tidak biasa adalah bagaimana memanfaatkan kegagalan menjadi pupuk yang dapat menumbuh suburkan pohon tekad untuk bangkit pada waktu rasa optimis menggersang dalam hamparan kebun jiwa. Jangan pernah menyangka bahwa pahlawan akan selalu meraih segala prestasinya dengan mulus, atau bahkan tidak pernah mengenal rasa kegagalan. kesulitan adalah rintangan yang diciptakan oleh sejarah dalam meraih sebuah keberhasilan dan perjalanan menuju kepahlawanan. oleh karena itu sebuah peluang kegagalan sama besarnya dengan peluang keberhasilan. “Kalau bukan karena kesulitan, maka semua orang akan menjadi pahlawan,” kata seorang penyair Arab, Al-Mutanabbi.

Kegagalan adalah bentuk rintangan yang selalu menghadang setiap calon pahlawan, kegagalan yang menimpa seseorang akan dapat mempengaruhi kondisi dan mempengaruhi seluruh kepribadiannya dan juga jalan hidupnya. inti persoalan dari kegagalan memang terdapat disitu, yaitu goncangan jiwa itulah yang biasanya merubah arah kehidupan dan kondisi phsikis kehidupan seseorang. Sebab, kegagalan itu mungkin menghilangkan kepercayaan dirinya, membabat image dirinya ditengah lingkungannya, membabat habis harapah-harapan dan ambisi-ambisinya serta menyemaikan keputusasaan dalam dirinya. Jalan yang dihadapannya seperti menjadi buntu dan langit kehidupan menjadi gelap, maka mimpi kepahlawanannya seperti gugur satu demi satu.

Akan tetapi, para pahlawan selalu menemukan celah dibalik kebuntuan, dan memiliki secercah cahaya harapan dibalik gelapnya kehidupan. Begitulah para pahlawan mensiasatinya.

Apabila anda mengenal sosok Muhammad Al Fatih Murad, Membebaskan Konstantinopel adalah bukan perkara mudah bagi sosok pemuda yang masih berusia 23 tahun itu. Pembebasan pusat negara Adidaya saat itu yaitu Imperium Romawi, kalau kita melihat sejarah sebelum Muhammad Al Fatih, cita-cita pembebasan itu adalah hal yang akrab bagi para sahabat Rosulullah yaitu 8 abad sebelum Al Fatih memimpin pasukan perangnya. Mengutip perkataan dari sejarahwan dan orientalis Hamilton Gibb bahwa pembebasan itu adalah cita2 kaum muslimin 8 abad sebelumnya. Semua serangan gagal meruntuhkan perlawanan kota itu sepanjang abad-abad itu. Dan serangan-serangan awal Muhammad Al-Fatih Murad juga mengalami kegagalan. Kegagalan itu sama dengan kegagalannya sebagai pemimpin negara di awal2 pemerintahannya, ketika pada usia 16 tahun ayahnya menyerahkan kekuasaan kepadanya.

Akan tetapi, bila Muhammad Al-Fatih kemudian berhasil merebut kota itu, kita memang perlu mencatat pelajaran ini: “Bagaimana seorang pahlawan dapat melampaui kegagalan-kegagalannya dan merebut takdirnya sebagai pahlawan?”

Rahasia ke-1 (pertama) adalah mimpi yang tidak pernah selesai. Kegagalan adalah perkara teknis bagi sang pahlawan. Kegagalan tidak boleh menyentuh sedikit pun wilayah mimpinya. Mimpi tidak boleh selesai karena kegagalan. “Dan tekad seperti ini akan merubah rintangan dan kesulitan menjadi sarana mencapai tujuan,” kata Said bin Al-Musayyib.

Begitulah, tekad mereka melampaui kegagalan, sampai rintangan yang menghadang jalannya tak sanggup menghadapi tekadnya, maka ia (rintangan) tunduk, lalu memberinya jalan menuju penghentian terakhir dari mimpinya. “Kalau tekad seseorang benar adanya, maka jalan menuju tujuannya pastilah jelas,” kata pepatah Arab.

Rahasia ke-2 adalah semangat pembelajaran yang konstan. Seorang pahlawan tidak pernah memandang dirinya sebagai Superman atau Malaikat. Ia tetaplah manusia biasa. Dan kegagalan merupakan bagian dari tabiat kehidupan manusia, maka ia “memaafkan” dirinya untuk kegagalan itu. Namun, ia tidak berhenti sampai disitu. Kegagalan adalah objek pengalaman yang harus dipelajari, untuk kemudian dirubah menjadi pintu kemenangan. Demikianlah seharusnya kita mendefenisikan pengalaman: bahwa ia adalah investasi pembelajaran yang membantu proses penyempurnaan seluruh faktor keberhasilan dalam hidup

Yang ke-3 mereka lakukan saat rasa gagal itu datang adalah mempertahankan ketenangan. Sebab, inilah akar keseimbangan jiwa yang membantu seseorang melihat panorama hidup secara proposional. Keseimbangan jiwa inilah yang membuat seseorang tegar didepan goncangan-goncangan hidup.

Yang ke-4 adalah mempertahankan harapan. Sebab, harapan, kata Rasulullah saw, adalah rahmat Allah bagi umatku. Jika bukan karena harapan, takkan ada orang yang mau menanam pohon dan takkan ada ibu yang mau menyusui anaknya. Harapan adalah buah dari kepercayaan kepada rahmat Allah SWT dan juga kepada kemampuan Allah SWT melakukan semua yang ia kehendaki.

Yang ke-5 adalah mempertahankan keberanian. Dan keberanian adalah buah dari kepercaan diri yang kuat dan juga anak yang lahir dari tekad baja. Keberanian dibutuhkan untuk menembus keterbatasan-keterbatasan pada ruang gerak dan hambatan yang tercipta akibat perubahan pada image.

Yang ke-6 adalah mempertahankan semangat kerja di tengah keterbatasan-keterbatasan itu. Dalam banyak kasus, keterbatasan-keterbatasan justru membantu memberikan fokus pada arah dan target serta konsentrasi yang kuat. Yang kita lakukan disini adalah memenuhi ruang yang tersedia dengan amal dan karya.

Rahasia ke-7 adalah kepercayaan pada waktu. Setiap peristiwa ada waktunya, maka setiap kemenangan ada jadwalnya. Ada banyak rahasia yang tersimpan dalam rahim sang waktu, dan biasanya tidak tercatat dalam kesadaran kita. Akan tetapi, para pahlawan biasanya mempunyai cara lain untuk mengenalinya, atau setidaknya meraba-rabanya, yaitu firasat. Mereka “memfirasati zaman” walaupun ia mungkin benar mungkin salah, tetapi ia berguna untuk membentuk kecendrungannya. Firasat bagi mereka adalah faktor rasional. Perhitungan-perhitungan rasional harus tetap ada, tetapi keputusan untuk melangkah pada akhirnya bersifat intuitif. Begitulah akhirnya takdir kepahlawanan terjembatani dengan firasat untuk sampai ke kenyataan.

Maka, sebab itulah para ilmuwan dan pemimpin besar islam IBNU RUSHD (AVERROES), IBNU SINA (AVICENNA), AL-BIRUNI, ABU AL-QASIM AL-ZAHRAWI (ALBUCASIS), AL-KHWARIZMI, AL-KINDI,  MUHAMMAD AL FATIH, SHOLAHUDDIN AL-AYOUBI, KHALID BIN WALID dan masih banya yang lainnya, mampu menggemparkan Dunia dengan apa yang mereka lakukan.

Terinspirasi dari keheroikan sang pahlawan Rosulullah SAW, Generasi Sahabat, Generasi Tabi’in

Wallohua’lam bishshowwab…

 

Firdaus

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.